Kamis, 04 Desember 2014

Finansial Kelompok Saya

hari ini saya ingin memasukan Laporan Akhir pada praktikum Tata Letak Fasilitas..
Berikut penulisan Laporan Akhir kelompok saya..

LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS
(ASPEK FINANSIAL)
LOGO_GUNADARMA(1)
Disusun Oleh:

Kelompok                : 4 (Empat)
Nama/NPM              :
1. Aldi Prasetyo       / 30411548                  4. M. Taufik Azhari             / 34411718
2. Dhona Purnomo   / 32411002                  5. Rizky Noor Amalia K.W / 36411391
3. Mada Samodra Q /                                  34411228                             6. SeCVian Nur Firmansyah         / 36411691
Shift/Tanggal            : 2 (Dua)/7 November 2014
Asisten Pembimbing: Adinda Khairunnisa, ST.
Nilai                         :
Paraf Asisten            :

LABORATORIUM TEKNIK INDUSTRI LANJUT
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2014
MENENTUKAN INVESTASI AWAL, MODAL KERJA, HARGA POKOK, DAN ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI CV WOOD STATIONERY INDONESIA

Aldi Prasetyo, Dhona Purnomo, Mada Samodra Qisthisuni, Muhammad Taufik Azhari, Rizky Noor Amalia Kusumo Wardhani, SeCVian Nur Firmansyah.

Mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma
(Jl. Akses Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Jawa Barat)

ABSTRAKSI
Manajemen finansial yang baik memegang peranan penting bagi keberhasilan perusahaan. Hampir semua kejadian penting dalam perusahaan mengandung aspek finansial. Permasalahan yang terkadang dihadapi oleh perusahaan adalah tidak melakukan studi kelayakan yang berkaitan dengan aspek finansial saat perusahaan tersebut akan ditanamkan investasi. Salah satu akibat yang akan terjadi apabila tidak dilakukan studi kelayakan terhadap aspek finansial yaitu perusahaan akan mengalami kerugian karena investasi tidak akan mencukupi kebutuhan modal dalam kegiatan operasional kerja. Perumusan masalah pada jurnal ini yaitu bagaimana aliran masuk keluarnya kas perusahaan serta bagaimana keputusan yang dapat diambil dari studi kelayakan investasi pada CV Wood Stationery Indonesia. Pembatasan masalah pada jurnal ini yaitu harga komponen, ongkos penanganan bahan, data finansial pada struktur organisasi, total luas lantai, jumlah mesin dan harga tanah/m2. Tujuan penerapan studi kelayakan berdasarkan aspek finansial yaitu mengetahui total biaya investasi awal, mengetahui total modal kerja untuk setiap tahun, mengetahui harga pokok penjualan (HPP) per unit serta mengetahui harga jual per unit produk lemari buku miring, mengetahui total biaya pembayaran untuk setiap tahun kepada bank, mengetahui pendapatan bersih perusahaan untuk setiap tahunnya, mengetahui aliran kas (cash flow) dan mengetahui kelayakan investasi pada CV Wood Stationery Indonesia berdasarkan aspek finansial. Total investasi yang diperlukan pada CV Wood Stationery Indonesia sebesar Rp 1.121.357.000. Total modal kerja yang diperlukan pada CV Wood Stationery Indonesia untuk tahap perancangan dan tahun pertama adalah sebesar Rp. 430.024.186 dan Rp.2.019.208.834. Harga jual per unit untuk produk lemari buku miring dengan profit 67% adalah sebesar Rp 526.083,34. Angsuran pokok tiap tahun sebesar Rp 178.529.501. Berdasarkan analisis kelayakan proyek dengan payback period (PP), net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan break even point (BEP) dapat dikatakan bahwa CV Wood Stationery Indonesia dikatakan layak.
Kata Kunci: Finansial, Investasi Awal, Modal Kerja, HPP, Payback Period.
PENDAHULUAN
Manajemen finansial yang baik memegang peranan penting bagi keberhasilan perusahaan. Hampir semua kejadian penting dalam perusahaan mengandung aspek finansial, misalnya perusahaan ingin menambah mesin dalam memproduksi produknya. Pengelolaan aspek finansial sangatlah penting karena ada perusahaan yang dapat meningkatkan penjualan tetapi mengalami kesulitan uang karena arus kas masuk yang diterima tidak mampu membayar bahan baku atau membayar hutang yang telah jatuh tempo. Permasalahan yang terkadang dihadapi oleh perusahaan adalah tidak melakukan studi kelayakan yang berkaitan dengan aspek finansial saat perusahaan tersebut akan ditanamkan investasi. Investasi adalah suatu penanaman modal yang akan digunakan untuk menjalankan suatu kegiatan atau proyek perusahaan dikemudian hari. Salah satu akibat yang akan terjadi apabila tidak dilakukan studi kelayakan terhadap aspek finansial yaitu perusahaan akan mengalami kerugian karena investasi tidak akan mencukupi kebutuhan modal dalam kegiatan operasional kerja.
Oleh karena itu, perancangan tata letak fasilitas selain memperhatikan aspek teknis, pasar, organisasi dan lingkungan juga harus memperhatikan aspek finansial. Studi kelayakan aspek finansial merupakan suatu usaha untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pelaksanaan bisnis, apakah bisnis tersebut berjalan sesuai rencana dan akan memberikan hasil seperti yang diharapkan. Studi kelayakan aspek finansial perusahaan bertujuan untuk menghindari resiko kerugian, memudahkan perencanaan, memudahkan pelaksanaan pekerjaan, serta memudahkan pengawasan dan pengendalian. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk studi kelayakan dalam aspek ekonomi dan finansial yaitu metode payback period, metode net present value, metode internal rate of return, dan metode break even point. Studi kelayakan aspek finansial diterapkan pada CV Wood Stationery Indonesia. Perhitungan matematis berupa perhitungan biaya mengenai investasi awal dan modal kerja, perhitungan harga pokok penjualan, proyeksi pembayaran angsuran pokok dan bunga bank, proyeksi analisis rugi laba, dan proyeksi perkiraan cash flow, dan yang terakhir adalah proyeksi penilaian investasi dilakukan sebelum menentukan proyek perusahaan tersebut layak atau tidak.
Perumusan masalah pada jurnal ini yaitu bagaimana aliran masuk keluarnya kas perusahaan serta bagaimana keputusan yang dapat diambil dari studi kelayakan investasi pada CV Wood Stationery Indonesia. Pembatasan masalah pada jurnal ini yaitu data penunjang yang digunakan hanya harga komponen, ongkos penanganan bahan, data finansial pada struktur organisasi, total luas lantai, jumlah mesin dan harga tanah/m2. Tujuan penerapan studi kelayakan berdasarkan aspek finansial yaitu mengetahui total biaya investasi awal, mengetahui total modal kerja untuk setiap tahun, mengetahui harga pokok penjualan (HPP) per unit serta mengetahui harga jual per unit produk lemari buku miring, mengetahui total biaya pembayaran untuk setiap tahun kepada bank, mengetahui pendapatan bersih perusahaan untuk setiap tahunnya, mengetahui aliran kas (cash flow) dan mengetahui kelayakan investasi pada CV Wood Stationery Indonesia berdasarkan aspek finansial.
TINJAUAN PUSTAKA
Keuangan merupakan salah satu fungsi bisnis yang bertujuan untuk membuat keputusan keputusan investasi, pendanaan, dan dividen. Keputusan investasi ditujukan untuk menghasilkan kebijakan yang berhubungan dengan (a) kebijakan pengalokasian sumber dana secara oCVimal, (b) kebijakan modal kerja (c) kebijakan investasi yang berdampak pada strategi perusahaan yang lebih luas (merger dan akuisisi). Keputusan pendanaan difokuskan untuk medapatkan usaha oCVimal dalam rangka mendapatkan dana atau dana tambahan untuk mendukung kebijakan investasi. Sumber dana dibagi dalam 2 kategori yaitu internal yaitu dari laba ditahan (retained earnings) dan sumber eksternal yaitu dalam bentuk utang yang meliputi penundaan pembayaran utang, pinjaman jangka pendek sebagai tambahan modal kerja, dan pinjaman jangka panjang (obligasi) sebagai dana investasi. dan menerbitkan saham, baik dalam bentuk saham perdana (Initial Public Offer/IPO) maupun saham biasa baru sebagai sumber modal investasi dalam rangka ekspansi perusahaan. Masalah utama dalam mengoCVimalkan keputusan pendanaan adalah menetapkan struktur modal (utang dan ekuitas) yang oCVimal sebagai asumsi dasar dalam memutuskan berapa jumlah dana dan bagaimana komposisi jumlah dana pinjaman dan dana sendiri yang ditambahkan untuk mendukung kebijakan investasi sehingga kinerja keuangan perusahaan dapat tumbuh secara sehat. Di samping itu, komposisi struktur modal harus pula dipertimbangkan hubungan antara perusahaan, kreditur, maupun pemegang saham sehingga tidak terjadi konflik. Keputusan dividen ditentukan dari jumlah keuntungan perusahaan setelah pajak (earning after tax). Oleh karena itu tujuan memaksimumkan keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham (dividen) dengan kendala memaksimumkan laba ditahan untuk diinvestasikan kembali sebagai sumber dana internal, dengan kata lain semakin banyak jumlah laba ditahan berarti semakin sedikit uang yang tersedia bagi pembayaran dividen[1].
Investasi (I) merupakan modal yang diperlukan untuk pembangunan (rehabilisasi, perluasan) suatu proyek ditambah dengan bunga (i%) selama pembangunan (during construction). Biaya investasi (const of investment) merupakan biaya atas proyek yang bersangkutan tiap-tiap periode (tahun), yang meliputi bunga atas investassi (dihitung sejak proyek selesai dibangun), yaitu bunga atas investasi = a% x I (a% adalah persentase bunga), operation cost atas proyek (O), maintenance cost atas proyek (M), dan replacement atas peralatan proyek (R). Biaya-biaya produksi dan distribusi (supply) produksi dan biaya-biaya lainnya yang berhubungan dengan produksi, tidak termasuk biaya investasi. Biaya overhad dapat dimasukan ke dalam biaya investasi atau dimasukan ke dalam biaya produksi atau ke dalam biaya distribusi atau ke dalam ke dua-duanya sesuai dengan kebijaksanaan manajemen[2].
Kebutuhan investasi adalah untuk barang-barang modal, harta tak berujud, dan harta lancar. Investasi untuk barang-barang modal (capital goods), meliputi penyediaan mesin-mesin, bangunan pabrik, kantor, gudang, tanah, berbagai peralatan pabrik, kantor, gudang, alat-alat pengangkutan, dan sebagainya. Investasi untuk harta tak berujud (intangible assets) dan biaya dibayar di muka (deferred charges) meliputi biaya persiapan untuk survey, notaris, audit, konsultan, dan pegawai (sebelum beroperasi secara komersial), bunga selama construction period, dan lisensi. Biaya yang ditangguhkan untuk harta berujud (tangible assets) disebut pengurangan harga (depreciation). Biaya yang ditangguhkan untuk harta tak berujud (intangible assets) disebut deferred charges (amortization)[2].
Cashflow merupakan jumlah pengeluaran (pembayaran) tiap-tiap periode (tahun), antara lain pembelian bahan-bahan, peralatan dan lain-lain disamping penerimaan. Bila modal untuk investasi seluruhnya atau sebagian diperoleh dari kredit (pinjaman), maka pembayaran kembali pinjaman itu setiap periode termasuk dalam cashflow[1]. Demikian juga dengan pembayaran bunga pinjaman setiap periode. Aliran kas awal (initial cash flow) adalah aliran kas yang berkaitan dengan pengeluaran untuk kegiatan investasi. Aliran kas operasional (operational cash flow) adalah aliran kas yang berkaitan dengan operasional proyek. Aliran kas akhir (terminal cash flow) adalah aliran kas yang berkaitan dengan nilai sisa seperti sisa modal kerja, nilai sisa proyek yaitu penjualan peralatan proyek[1].
Laba (Gain) adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan selama suatau periode kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi oleh pemilik.    Payback period (Pb) merupakan lamanya waktu yang diperlukan oleh benefit (B) dan depresiasi (D) untuk mengembalikan investasi (I). Pb menunjukan perbandingan antara I dengan B + D. Benefit dalam hal ini dapat ditinjau dari segi benefit itu saja (B), atau benefit dikurangi cost (B – C), yaitu surpulus. Ada beberapa cara pengembalian pinjaman (kredit) yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan suatu proyek. Tapi, jika ditinjau dari segi si peminjam uang, tentu dia menghendaki agar pengembalian pinjaman itu tiap-tiap periode (tahun) maksimal sebesar surpulus yang akan diperolehnya dari proyek yang bersangkutan yaitu maksimal sebesar B – C tiap-tiap periode[2].
Harga pokok penjualan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang dijual atau harga perolehan dari barang yang dijual. Ada dua manfaat dari harga pokok penjualan, yaitu sebagai patokan untuk menentukan harga jual, dan untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan. Apabila harga jual lebih besar dari harga pokok penjualan maka akan diperoleh laba, dan sebaliknya apabila harga jual lebih rendah dari harga pokok penjualan akan diperoleh kerugian[4]. Bunga bank adalah keuntungan yang diberikan oleh bank kepada nasabah dalam jangka waktu tertentu berdasarkan persentase dan jumlah tabungan (modal) nasabah[5]. Laba/rugi adalah selisih jumlah antara jumlah penerimaan dengan jumlah biaya produksi, jika dirumuskan adalah L = TR – TC[6]. Depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi[2].
Modal kerja adalah dana yang diperlukan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari, seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah buruh, membayar utang dan pembayaran lainnya[2]. Keuntungan dari modal kerja antara lain adalah melindungi kemungkinan terjadinya krisis keuangan guna membenahi modal kerja yang diperlukan, merencanakan dan mengawasi rencana perusahaan menjadi rencana keuangan dalam jangka pendek, menilai kecepatan perputaran modal kerja dalam arti yang menyeluruh, membayar atau memenuhi kewajiban jangka pendek sesuai dengan jatuh tempo, memperoleh kredit sebagai sumber dana guna memperbesar pemenuhan kebutuhan kekayaan aktiva lancar, dan memberikan pedoman yang baik sehingga tidak terdapat keraguan manajemen guna memperoleh efisiensi yang baik. Adapun kerugian dari modal kerja antara lain adalah kelebihan atas modal kerja mengakibatkan kemampuan laba menurun sebagai akibat lambatnya perputaran dana perusahan, menimbulkan kesan bahwa manajemen tidak mampu mengunakan modal kerja secara efisien, dan jika modal kerja tersebut dipinjam dari bank maka perusahaan mengalami kerugian dalam membayar bunga[3].
Nett present value (NPV) adalah metode yang mengurangkan nilai sekarang dari uang dengan aliran kas bersih operasional atas investasi selama umur ekonomis termasuk terminal cash flow dengan initial cash flow (initial investment). Kriteria keputusan dari metode NPV adalah jika NPV bertanda positif (NPV > 0), maka rencana investasi diterima, dan jika NPV bertanda negatif (NPV < 0), maka rencana investasi ditolak. Kelebihan metode NPV antara lain adalah memperhitungkan nilai waktu dari uang, memperhitungkan arus kas selama usia ekonomis proyek, dan memperhitungkan nilai sisa proyek. Adapun kekurangan dari metode NPV antara lain adalah manajemen harus dapat menaksir tingkat biaya modal yang relevan selama usia ekonomis proyek, jika proyek memiliki nilai invetasi inisial yang berbeda, serta usia ekonomis yang juga berbeda, maka NPV yang lebih besar belum menjamin sebagai proyek yang lebih baik, dan derajat kelayakan tidak hanya dipengaruhi oleh arus kas, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor usia ekonomis proyek[4].
Internal rate of return adalah nilai discount rate i yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol. Kriteria keputusan dari IRR adalah jika nilai IRR lebih besar dari bunga bank maka investasi dikatakan layak, sedangkan nilai IRR lebih kecil dari bunga bank maka investasi tidak layak. Discount rate yang dipakai untuk mencari present value dari suatu benefit/biaya harus senilai dengan opportunity cost of capital seperti terlihat dari sudut pandangan si penilai proyek[1]. Break even point adalah salah satu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume penjualan dan merupakan teknik untuk menggabungkan, mengkoordinasikan, menafsirkan data dan distribusi untuk membantu manajemen dalam pengambilan keputusan. Biaya tetap (Fixed Cost) adalah jenis biaya yang selama kisaran waktu operasi tertentu atau tingkat kapasitas produksi tertentu selalu tetap jumlahnya atau tidak berubah walaupun volume produksi berubah. Biaya variabel (Variable Cost) adalah jenis-jenis biaya yang besar kecilnya tergantung pada banyak sedikitnya volume produksi[5].
Rasio likuiditas (likuidity ratio) digunakan untuk mengukur jumlah uang yang tersedia untuk membayar biaya-biaya jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio ini penting dalam menjaga agar perusahaan dapat teta berjalan. Perusahaan akan bangkrut apabila tidak dapat menyediakan uang tunai (kas) dengan cepat. Aturlah waktu sebelumnya untuk meminjam sejumlah dana untuk jangka waktu tertentu (line-of-credit). Saat untuk melakukan pengaturan ini adalah ketika perusahaan memiliki likuiditas yang sangat baik. Rasio profitabilitas (profitability ratio) digunakan untuk mengukur dan membantu mengendalikan pendapatan, yaitu dengan cara memperbesar penjualan, memperbesar margin, mendapatkan manfaat yang lebih besar dari pengeluaran biaya-biaya[5].

METODOLOGI PENULISAN
Langkah awal dalam melakukan perhitungan finansial adalah melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan dalam perhitungan financial data-data tersebut dari data komponen utama dan tambahan, jenis dan jumlah meisn yang dibutuhkan, luas lantai pabrik, perkantoran dan fasilitas, OMH, gaji tenaga kerja langsung dan tidak langsung, harga tanah per meter serta daftar harga mesin, apabila semua data finansial terpenuhi, selanjutnya akan menentukan jangka waktu perencanaan yaitu 5 tahun. Selanjutnya melakukan perhitungan investasi, dimana perhitungan investasi ini untuk mengetahui seberapa besar 75% modal dari CV Wood Stasionary Indonesia yang dibutuhkan dan berapa besar 25% modal meminjam dari bank selanjutnya mengetahui berapa besar biaya investasi selanjutnya melakukan perhitungan modal kerja, dimana modal kerja meliputi biaya tetap dan biaya variabel yang harus dikeluarkan oleh perusahaan setelah tahap selanjutnya melakukan perhitungan harga pokok penjualan untuk mengetahui berapa harga jual per unit produk lemari buku miring dengan profit yang diinginkan sebesar 67%.
Langkah selanjutnya akan melakukan proyeksi pembayaran angsuran pokok dan bunga bank dimana CV Wood Stasionery Indonesia ingin melunasi hutang bank yaitu jangka waktu 5 tahun, pemilihan pembayaran paling lama 5 tahun karena dilihat dari beberapa faktor, dan juga mengetahui ditahun keberapa modal perusahaan akan kembali. Selanjutnya melakukan perhitungan proyeksi analisis rugi laba dimana perhitungan ini bertujuan untuk menggambarkan perkiraan keuntungan atau kerugian yang akan diperoleh atau diderita oleh proyek tersebut untuk jangka waktu tertentu. Selanjutnya melakukan perhitungan proyeksi perkiraan aliran kas yang meliputi perhitungan initial cash flow (ICF), operational cash flow (OCF), terminal cash flow (TCF). Perhitungan selanjutnya adalah perhitungan payback period (PP), net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan break even point (BEP). Perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui apakah proyek tersebut layak untuk dilaksanakan atau tidak, dimana modal harus kembali tidak lebih dari 5 tahun, (NPV) harus bernilai positif, IRR harus lebih besar dari tingkat bunga (14%). Sedangkan perhitungan break even point (BEP) berguna untuk mengetahui titik impas dimana perusahaan tidak untung ataupun rugi.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan yang terdapat pada modul aspek finansial membutuhkan beberapa data penunjang, diantaranya harga komponen, ongkos penanganan bahan, data finansial pada struktur organisasi, total luas lantai, jumlah mesin dan harga tanah/m2. CV Wood Stationery Indonesia akan didirikan di Nagrak, Sukabumi yang terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat dan terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 meter diatas permukaan laut dengan suhu maksimum 290 C. Luas Tanah yang direncanakan untuk didirikan perusahaan sebesar 1200 m2 dengan sertifikat tanah hak milik (SHM) dan harga per meter Rp 125.000,00. CV Wood Stationery Indonesia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 150.000.000,00 untuk pembelian lahan tanah tersebut. Daerah Sukabumi memiliki UMR sebesar Rp 1.350.000. Tabel 1 berikut merupakan data penunjang berupa harga komponen utama produk lemari buku miring untuk perhitungan aspek finansial CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 1. Harga Komponen Utama
No. Komp
Nama Komponen
Unit/Assy
Harga/Unit (Rp)
001
Papan Belakang
1
20.336,84
002
Papan Samping Kiri
1
15.494,74
003
Papan Samping Kanan
1
15.494,74
004
Papan Atas dan Bawah
2
7.073,68
005
Papan Sekat Miring
2
7.073,68
006
Papan Pintu
1
6.521,05
Tabel 1 menunjukan penjelasan mengenai harga komponen utama yang digunakan dalam pembuatan lemari buku miring. Komponen utama tersebut terdiri dari papan belakang, papan samping kiri, papan samping kanan, papan atas dan bawah, papan sekat miring dan papan pintu. Data penunjang berikutnya merupakan harga komponen tambahan. Tabel 2 menunjukan harga komponen tambahan produk lemari buku miring.
Tabel 2. Harga Komponen Tambahan
No. Komp
Nama Komponen
Unit/Assy
Unit tersedia
Harga/Unit (Rp)
007
Sekrup 2,4 cm
24
50
120
008
Engsel (Sekrup,4)
2
2
2500
009
Handle (Sekrup,1)
1
1
2000
Tabel 2 menunjukan penjelasan mengenai harga komponen tambahan yang digunakan dalam pembuatan lemari buku miring. Semua komponen utama dan komponen tambahan diproses menggunakan mesin-mesin. Komponen tambahan tersebut terdiiri dari sekrup, engsel dan handle. Data penunjang selanjutnya adalah data mesin. Tabel 3 berikut ini merupakan data mesin yang digunakan dalam pembuatan produk lemari buku miring CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 3. Harga Mesin
No. Mesin
Nama Mesin
Proses
Jumlah (Unit)
Harga/Unit
(Rp)
F001
Meja Fabrikasi
Mengukur
3
300.000
F002
Mesin Jigsaw
Memotong
3
200.000
F003
Mesin Serut
Menghaluskan
4
700.000
F004
Mesin Bor
Melubangi
2
300.000
A001
Meja Assembling
Merakit
2
300.000
F005
Mini Forklift
Menangani Bahan
1
6.500.000
Tabel 3 menunjukan data mesin-mesin yang digunakan dalam pembuatan lemari buku miring. Mesin-mesin yang digunakan dalam pembuatan lemari buku miring adalah mesin fabrikasi, mesin jigsaw, mesin serut, mesin bor, meja assembling, dan mini forklift. Pembuatan produk lemari buku miring tidak terlepas dari adanya aktivitas penanganan bahan. Ongkos penanganan bahan perlu diperhitungkan karena sebagian besar aktivitas proses produksi adalah penanganan bahan. Tabel 4 berikut ini adalah ongkos penanganan bahan CV Wood Statinery Indonesia.
Tabel 4. Ongkos Penanganan Bahan (OMH)
Dari
Ke
Alat Angkut
OMH (Rp/meter)
Jarak (m)
Total Ongkos (Rp)
Receiving (Model Tumpukan)
Meja Fabrikasi
Forklift
2500
5,3324
13.331
Meja Fabrikasi
Mesin Jigsaw
Forklift
2500
6,3225
15.806
Mesin Jigsaw
Mesin Serut
Forklift
2500
5,2779
13.194
Mesin Serut
Mesin Bor
Forklift
2500
4,8284
12.071
Mesin Bor
Meja Assembling
Forklift
2500
5,5355
13.838
Receiving (Model Rak)
Meja Assembling
Manusia
75
27,2967
2.047
Meja Assembling
Shipping
Forklift
2500
7,0212
17.553
Total
61,6146
87.840
                Tabel 4 menunjukkan data OMH pembuatan produk lemari buku miring CV Wood Stationery Indonesia. Alat angkut yang digunakan hanya dua yaitu forklift dan manusia. Total jarak yang ditempuh dalam proses penanganan bahan adalah 61,6146 meter dan total ongkos yang harus dikeluarkan perusahaan sebesar Rp 87.840,00. Data penunjang berikutnya adalah data finansial berdasarkan struktur organisasi CV Wood Stationery Indonesia. Data finansial tersebut terbagi menjadi gaji tenaga kerja langsung dan gaji tenaga kerja tidak langsung. Tabel 5 berikut ini adalah uraian gaji tenaga kerja langsung CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 5. Gaji Tenaga Kerja Langsung CV Wood Stationery Indonesia
Departemen Fabrikasi
Nama Mesin/Jabatan
Jumlah Personil
Gaji/bulan (Rp)
Total Gaji/bulan (Rp)
Meja Fabrikasi
3
1.350.000
4.050.000
Mesin Jigsaw
3
1.350.000
4.050.000
Mesin Serut
4
1.350.000
5.400.000
Mesin Bor
2
1.350.000
2.700.000
Departemen Assembling
Nama Mesin/Jabatan
Jumlah Personil
Gaji/bulan (Rp)
Total Gaji/bulan (Rp)
Meja Assembling
2
1.350.000
2.700.000
Total Gaji Tenaga Kerja Langsung
16.200.000
            Tabel 5 adalah data penunjang berupa gaji tenaga kerja langsung CV Wood Stationery Indonesia. Tenaga kerja langsung yang dimaksud adalah operator yang bekerja langsung di area proses produksi.  Data penunjang berikutnya adalah gaji tenaga kerja tidak langsung pada proses pembuatan lemari buku miring. Tabel 6 berikut adalah uraian gaji tenaga kerja tidak langsung CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 6. Gaji Tenaga Kerja Tidak Langsung CV Wood Stationery Indonesia
Jabatan
Jumlah (orang)
Gaji/bulan (Rp)
Total Gaji/bulan (Rp)
Direktur
1
5.000.000
5.000.000
Manager
6
3.500.000
21.000.000
Staff
6
2.000.000
12.000.000
Total
38.000.000
Jabatan
Jumlah (orang)
Gaji/bulan (Rp)
Total Gaji/bulan (Rp)
Satpam
2
1.400.000
2.800.000
Recepsionist
1
1.500.000
1.500.000
Supir
2
1.300.000
2.600.000
Office Boy
2
1.300.000
2.600.000
Total
9.500.000
Total Gaji Tenaga Kerja Tidak Langsung
47.500.000
            Tabel 6 adalah data penunjang berupa gaji tenaga kerja tidak langsung CV Wood Stationery Indonesia. Tenaga kerja tidak langsung yang dimaksud adalah operator yang tidak bekerja secara langsung di area proses produksi.  Data penunjang berikutnya adalah luas lantai yang digunakan. Tabel 7 berikut ini merupakan luas lantai pembuatan produk lemari buku miring CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 7. Luas Lantai CV Wood Stationery Indonesia
No.
Jenis
Departemen
Luas Lantai (m2)
Total (m2)
Luas Lantai Bahan Baku
1.
a. Luas Lantai Model Tumpukan
Gudang Bahan Baku
8,467896
8,51
b. Luas Lantai Model Rak
Gudang Bahan Baku
0,05157
Luas Lantai Mesin
2.
Meja Fabrikasi
Fabrikasi
60
182
Mesin Jigsaw
24
Mesin Serut
32
Mesin Bor
16
Meja Assembling
Perakitan
50
Luas Lantai Barang Jadi
3.
Lemari Buku Miring
Gudang Barang Jadi
48,6
48,6
Luas Lantai Perkantoran
4.
Ruang Direktur dan Finance
24
290
Ruang Production dan PPIC
24
Ruang Marketing dan Product Development
24
Ruang HRD
12
Toilet Kantor
8
Lobi
9
Ruang Rapat
25
Pantry
6
ReceCVionist
4
Luas Lantai Fasilitas
5.
Mushola
30
670,89
Pos Satpam
6
Instalasi Listrik
8
Instalasi Air
4
Toilet Luar
8
Kantin
30
Tempat Parkir
150
Pembuangan Limbah
9
Taman
455,89
Luas Tanah
1200
            Berdasarkan data penunjang di atas, maka langkah selanjutnya yaitu menentukan investasi awal. Perhitungan biaya investasi awal merupakan biaya awal yang akan dikeluarkan oleh pihak yang akan mendirikan suatu perusahaan meliputi tanah, bangunan terbuka, bangunan tertutup, dan aset perusahaan. Biaya investasi awal dipengaruhi oleh harga per unit, umur ekonomis, nilai sisa dan penyusutan atau depresiasi. Tabel 8 berikut ini merupakan investasi awal pada CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 8. Investasi Awal CV Wood Stationery Indonesia
No.
Komponen Biaya Investasi
Jumlah
Satuan
Harga/Unit (Rp)
Tota Harga (Rp)
Umur (Th)
Nilai Sisa (Rp)
Susut/Th (Rp)
1
Tanah
1,200
m2
125,000
150,000,000
2
Bangunan tertutup
612.110
m2
1,000,000
612,110,000
50
61,211,000
11,017,980
3
Bangunan terbuka
587.890
m2
300,000
176,367,000
50
17,636,700
3,174,606
4
Mesin
Meja Fabrikasi
3
Unit
300,000
900,000
10
90,000
81,000
Mesin Potong
3
Unit
200,000
600,000
10
60,000
54,000
Mesin Serut
4
Unit
700,000
2,800,000
10
280,000
252,000
Mesin Bor
2
Unit
300,000
600,000
10
60,000
54,000
Meja Assembling
2
Unit
300,000
600,000
10
60,000
54,000
5
Operator Alat Angkut
Mobil Carry Pick Up
1
Unit
68,000,000
68,000,000
5
6,800,000
12,240,000
Mini Forklift
1
Unit
6,500,000
6,500,000
5
650,000
1,170,000
6
Aset Perkantoran
Meja kerja + kursi kantor
13
Set
430,000
5,590,000
15
559,000
335,400
Meja rapat + kursi
1
Set
1,200,000
1,200,000
15
120,000
72,000
Meja tamu + sofa
2
Set
1,300,000
2,600,000
15
260,000
156,000
White board
1
Unit
150,000
150,000
5
15,000
27,000
Set Proyektor
1
Set
1,500,000
1,500,000
5
150,000
270,000
Lemari kantor
5
Unit
250,000
1,250,000
15
125,000
75,000
Tabel 8. Investasi Awal CV Wood Stationery Indonesia (Lanjutan)



AC
5
Unit
1,500,000
7,500,000
5
750,000
1,350,000
Instalasi Telepon + Internet
5
Unit
100,000
500,000
5
50,000
90,000
Jam Dinding
13
Unit
30,000
390,000
10
39,000
35,100
Mesin absen
1
Unit
1,350,000
1,350,000
5
135,000
243,000
Penerangan
57
Unit
55,000
3,135,000
5
313,500
564,300
Gerbang
1
Unit
500,000
500,000
10
50,000
45,000
Taman
1
m2
150,000
150,000



ATK
16
Set
388,000
6,208,000
1
620,800
5,587,200
Perlengkapan toilet
4
Set
1,700,000
6,800,000
15
680,000
408,000
Perlengkapan mushola
1
Set
330,000
330,000
5
33,000
59,400
Perlengkapan cleaning service
1
Set
185,000
185,000
2
18,500
83,250
Perlengkapan pantry
1
Set
610,000
610,000
5
61,000
109,800
Perlengkapan satpam
1
Set
345,000
345,000
5
34,500
62,100
Tempat sampah dalam
5
set
25,000
125,000
5
12,500
22,500
Tempat sampah luar
15
Unit
30,000
450,000
5
45,000
81,000
Komputer
8
Unit
4,500,000
36,000,000
5
3,600,000
6,480,000
Printer multifungsi
2
Unit
1,200,000
2,400,000
5
240,000
432,000
Hiasan kantor
3
Unit
200,000
600,000
10
60,000
54,000
Dana Penghijauan
100
Bibit
3,000
300,000
1
30,000
270,000
Dispenser
2
Unit
200,000
400,000
10
40,000
36,000
7
Aset Fabrikasi
Tool box
5
Set
200,000
1,000,000
5
100,000
180,000
Genset 5KVA Silence Diesel
1
Unit
8,850,000
8,850,000
5
885,000
1,593,000
Intalasi air
1
Unit
1,500,000
1,500,000
5
150,000
270,000
Intalasi listrik
1
Unit
2,500,000
2,500,000
5
250,000
450,000
exhaust fan
4
Unit
1,150,000
4,600,000
5
460,000
828,000
Perlengkapan K3
7
Set
26,000
182,000
2
18,200
81,900
APAR
9
Unit
250,000
2,250,000
10
225,000
202,500
Kotak P3K
3
Set
75,000
225,000
2
22,500
101,250
TOTAL




1,121,357,000

97,120,700
48,969,186
 Modal sendiri 75% (Rp)
841,017,750
 Modal  pinjaman 25% (Rp)
280,339,250
Berdasarkan perhitungan pada tabel investasi awal di atas, maka di bawah ini terdapat contoh perhitungan untuk memperjelas hasil perhitungan.
Tanah                          =   luas lantai produksi + luas lantai Perkantoran + luas lantai fasilitas
                                    =   239,11 m2 + 290 m2 + 670,89 m2
                                    =   1200 m2
Bangunan tertutup      =   luas lantai produksi + luas perkantoran + luas lantai fasilitas tertutup
                                    =   239,11 m2 + 290 m2 + 92 m2
                                    =   612,11 m2
Bangunan terbuka      =   luas lantai fasilitas terbuka = 587,89m2
Jumlah mesin              =   Berdasarkan rangkuman MPPC pada Tabel 3.
Total harga                  =   Jumlah x Harga/Unit.
Contoh perhitungan total harga pada meja fabrikasi:
Total harga meja fabrikasi       = 3 unit x Rp 300.000 = Rp 900.000
Nilai sisa                                  = 10% dari total harga
Contoh perhitungan nilai sisa pada meja fabrikasi:
Nilai sisa meja fabrikasi          = 10% x Rp 900.000= Rp. 90.000
Nilai susut/tahun         =  
            Berdasarkan Tabel 8. dapat diperoleh informasi bahwa total harga paling besar berasal dari bangunan tertutup yaitu sebesar Rp 612.110.000. Hal tersebut dikarenakan karena kuantitas atau jumlah yang diperlukan untuk bangunan tertutup lebih besar dibandingkan komponen biaya investasi yang lain. Selain itu, harga yang diperlukan untuk setiap unit bangunan tertutup juga cukup besar. Pada komponen tanah tidak memiliki umur ekonomis sehingga tidak memiliki nilai sisa maupun penyusutan. Karena harga tanah cenderung meningkat setiap tahunnya bukan menurun. Umur ekonomis merupakan periode yang efektif dalam penggunaan untuk setiap komponen biaya investasi. Nilai sisa merupakan nilai jual kembali setiap komponen investasi awal. Penyusutan atau depresiasi merupakan penurunan nilai suatu properti atau aset karena waktu pemakaian untuk setiap tahunnya. Pada akhir perhitungan investasi awal diketahui bahwa pemilik CV Wood Stationery Indonesia akan mengeluarkan dana sebesar 75% dari total biaya investasi awal sebesar Rp 841.017.750 untuk membangun proyek maupun pengadaan semua komponen pada Tabel 8. Sedangkan sisanya 25% diperoleh dengan meminjam dana dari bank sebesar Rp 280.339.250.
Berdasarkan data penunjang, maka selanjutnya yaitu perhitungan modal kerja. Modal kerja merupakan pemasukan biaya selain dari investasi awal pemilik perusahaan. Modal kerja terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan dan jumlah biaya tersebut tidak berubah atau tetap tanpa terkait oleh besar kecilnya proses produksi. Biaya tetap meliputi biaya PBB (tanah dan bangunan tertutup), biaya penyusutan, dan biaya tenaga kerja tak langsung perkantoran. Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan dan besar kecilnya biaya tersebut dipengaruhi oleh proses produksi. Biaya variabel terdiri dari biaya bahan langsung, biaya bahan tak langsung, biaya overhead pabrik, ongkos material handling (OMH), gaji tenaga kerja langsung, dan gaji tenaga kerja tak langsung non perkantoran. Tabel 9. berikut ini merupakan perhitungan modal kerja pada CV Wood Stationery Indonesia.
Tabel 9. Modal Kerja CV Wood Stationery Indonesia
Komponen Biaya
Tahun 0 (Rp)
Tahun 1 (Rp)
Tahun 2 (Rp)
Tahun 3 (Rp)
Tahun 4 (Rp)
Tahun 5 (Rp)
A.  Biaya Pra-Investasi
75,000,000





B.  Biaya Tetap
  1. PBB
      Tanah
75,000,000.00
75,000,000.00
75,000,000.00
75,000,000.00
75,000,000.00
75,000,000.00
      Bangunan Tertutup
306,055,000.00
306,055,000.00
306,055,000.00
306,055,000.00
306,055,000.00
306,055,000.00
  2. Penyusutan
48,969,186.00
48,969,186.00
48,969,186.00
48,969,186.00
48,969,186.00
48,969,186.00
  3. Tenaga karja tak langsung perkantoran
474,000,000.00
474,000,000.00
474,000,000.00
474,000,000.00
474,000,000.00
C.  Biaya Variabel
  1. Biaya bahan langsung
Papan Belakang (1 unit)

146,641,248.00
146,641,248.00
146,641,248.00
146,641,248.00
146,641,248.00
Papan Samping Kiri (1 unit)

111,562,128.00
111,562,128.00
111,562,128.00
111,562,128.00
111,562,128.00
Papan Samping Kanan (1 unit)

111,562,128.00
111,562,128.00
111,562,128.00
111,562,128.00
111,562,128.00
Papan Atas dan Bawah (2 unit)

101,860,992.00
101,860,992.00
101,860,992.00
101,860,992.00
101,860,992.00
Papan Sekat Miring (2 unit)

101,860,992.00
101,860,992.00
101,860,992.00
101,860,992.00
101,860,992.00
Papan Pintu (1 unit)

46,951,560.00
46,951,560.00
46,951,560.00
46,951,560.00
46,951,560.00
  2. Biaya bahan tak langsung
      Sekrup 2,4 cm

864,000.00
864,000.00
864,000.00
864,000.00
864,000.00
      Engsel (2 unit)

36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
      Handle

14,400,000.00
14,400,000.00
14,400,000.00
14,400,000.00
14,400,000.00
  3. Biaya overhead pabrik

60,000,000.00
66,000,000.00
72,600,000.00
79,860,000.00
87,846,000.00
  4. biaya telepon dan internet

36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
  5. biaya transortasi

36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
36,000,000.00
  6. OMH

21,081,600.00
21,081,600.00
21,081,600.00
21,081,600.00
21,081,600.00
  7. Tenaga kerja langsung

194,400,000.00
194,400,000.00
194,400,000.00
194,400,000.00
194,400,000.00
  8. Tenaga kerja tak langsung non Perkantoran

96,000,000.00
96,000,000.00
96,000,000.00
96,000,000.00
96,000,000.00
Total modal kerja
430,024,186.00
2,019,208,834.00
2,025,208,834.00
2,031,808,834.00
2,039,068,834.00
2,047,054,834.00
Modal sendiri 75%
1,836,924,765.00
Modal pinjaman 25%
612,308,255.00
            Berdasarkan perhitungan pada tabel modal kerja di atas, maka di bawah ini terdapat contoh perhitungan untuk memperjelas hasil perhitungan. Biaya pra-investasi didapatkan dari masing-masing perizinan untuk mendirikan usaha lokasi pabrik, biaya pembebasan tanah, dan balik nama pemilik.
Biaya tetap (Biaya yg tidak terpengaruh oleh volume produksi)
Tanah                          = 50% dari total harga tanah.
                             = 0,5 x Rp 150.000.000
                             = Rp 75.000.000
Bangunan Tertutup     = 50% dari total harga bangunan tertutup
                             = 0,5 x Rp 612.110.000
                             = Rp 306.055.000
Penyusutan                  = total penyusutan tabel investasi awal.
                                    = Rp 48.969.186
TK. TL. Perkantoran   = Gaji tenaga kerja tak langsung perkantoran/tahun
                             = Rp 39.500.000 x 12
                             = Rp 474.000.000
Berdasarkan perhitungan biaya tetap dapat dilihat bahwa biaya yang diperlukan untuk modal kerja tetap setiap tahunnya, hal tersebut dikarenakan tidak dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Untuk gaji tenaga kerja tak langsung perkantoran, pada sebelum tahun pertama perusahaan belum mengeluarkan biaya karena pada periode tersebut perusahaan masih dalam tahap pembangunan proyek.
Biaya variabel (Biaya yg terkait dengan volume produksi)
Biaya bahan langsung = Berdasarkan harga komponen pada Tabel 1.
                                    = Harga/unit    x Jumlah unit komponen utama/ produk  x 30 produk/hari x 20 hari kerja x 12 bulan
Contoh perhitungan komponen papan belakang (1 unit)
Biaya bahan langsung = Rp 20.336 x 1 x 30 x 20 x 12         
                                    = Rp 146.641.248
Biaya Bhn. Tak Lsg.   = Berdasarkan harga komponen pada Tabel 2.
                             = Harga/unit    x Jumlah unit komponen tambahan/ produk  x 30 produk/hari x 20 hari kerja x 12 bulan
Contoh perhitungan komponen handle (1 unit)
Biaya Bhn. Tak Lsg.   = Rp 2000 x 5 x 30 x 20 x 12
                             = Rp 14.400.000
Biaya Overhead Pabrik = Rp. 60.000.000, setiap tahun diasumsikan naik sebesar 10 %.
Contoh perhitungan tahun ke-2
Biaya Overhead Pabrik  = Rp 60.000.000 + (10% x Rp 60.000.000)
                                = Rp 66.000.000
Biaya telpon dan internet = 150.000 x 12 x 20
                                         = Rp 36.000.000
Biaya transportasi            =150.000 x 12 x 20
                                         = Rp 36.000.000
OMH                                = Nilai OMH x 12 bulan x 20 hari kerja
                                  = Rp 87.840 x 12 x 20
                                  = Rp 21.081.600
Gaji TK. Langsung         = Total gaji TK. Langsung x 12 bulan
     = Rp 16.200.000 x 12
                                  = Rp 194.400.000
Gaji TK. TK lsg. non kantor  =  Gaji TK. Lngsng Perkantoran x 12 bulan
                                        = Rp 8.000.000 x 12
                                        = Rp 96.000.000  
Berdasarkan perhitungan biaya variabel dapat dilihat bahwa biaya yang diperlukan untuk modal kerja berubah setiap tahunnya, hal tersebut dikarenakan dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan. Namun dalam 5 tahun, produksi tetap sebanyak 30 unit per hari. Perubahan disebabkan adanya pertambahan pada biaya overhead pabrik. Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang digunakan selain biaya material langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini biasanya digunakan untuk pemeliharaan dan perawatan mesin maupun biaya untuk hal-hal tak terduga yang mungkin saja terjadi sewaktu-waktu. Untuk biaya variabel, sebelum tahun pertama perusahaan belum mengeluarkan biaya karena pada periode tersebut perusahaan masih dalam tahap pembangunan proyek sedangkan proses produksi dimulai pada tahun pertama.
Berdasarkan perhitungan modal kerja pada Tabel 9, dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun terdapat pertambahan biaya modal kerja. Ini dipengaruhi oleh biaya overhead pabrik. Pada akhir perhitungan modal kerja diketahui bahwa pemilik CV Wood Stationery Indonesia akan mengeluarkan dana sebesar 75% dari total biaya modal kerja dari sebelum tahun pertama dan tahun pertama sebesar Rp 1.836.924.765 untuk menjalankan proyek sedangkan sisanya 25% diperoleh dengan meminjam dana dari bank sebesar Rp 612.308.255. Modal kerja hanya dikeluarkan untuk sebelum tahun pertama dan tahun pertama karena untuk tahun-tahun selanjutnya, biaya modal kerja yang harus dikeluarkan diperoleh dari pendapatan bersih hasil penjualan produk lemari buku miring.
Perhitungan selanjutnya dalam penerapan aspek financial yaitu perhitungan harga pokok penjualan. Perhitungan ini digunakan untuk menentukan harga jual produk per unit dengan mempertimbangkan PPN dan besarnya persentase profit yang diinginkan. Besarnya profit harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Tabel 10. berikut ini merupakan perhitungan harga pokok penjualan (HPP).
Tabel 10. Harga Pokok Penjualan (HPP)
No
Komponen Biaya
Biaya (Rp)
1
PBB
381,055,000.00
2
Penyusutan
48,969,186.00
3
Biaya telepon + internet
36,000,000.00
4
Biaya bahan langsung
692,439,048.00
5
Biaya bahan tak langsung
51,264,000.00
6
Biaya overhead pabrik
50,000,000.00
7
OMH
21,081,600.00
8
Tenaga kerja tak langsung
474,000,000.00
9
Tenaga kerja langsung
194,400,000.00
10
Tenaga kerja tak langsung non perkantoran
96,000,000.00
11
Biaya Transportasi
36,000,000.00
Biaya Fabrikasi Total
2,081,208,834.00
10
Ditambah persediaan WIP 1 Januari (thn 1)
0
Total
2,081,208,834.00
Dikurangi persediaan WIP 1 Januari (Thn 1)
0
Harga Pokok Produksi
2,081,208,834.00
11
Ditambah persediaan barang jadi 1 Januari (thn 1)
0

Total
2,081,208,834.00

Dikurangi persediaan barang jadi 31 Desember (Thn 1)
0
Harga Pokok Produksi (HPP)
2,081,208,834.00
Harga Jual
3,787,800,077.88
HPP/Unit
289,056.78
Harga Jual/Unit
526,083.34
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat diperoleh informasi bahwa Harga Pokok Penjualan (HPP) untuk produk lemari buku miring yang dihasilkan oleh CV Wood Stationery Indonesia adalah sebesar Rp 2.081.208.834. Perhitungan di atas, dapat dilihat bahwa selama tahun pertama tidak ada biaya untuk persediaan work in process (WIP) atau barang setengah jadi maupun biaya untuk persediaan barang jadi. Hal tersebut dikarenakan produk yang dihasilkan pada tahun pertama diasumsikan telah terjual semua. Langkah selanjutnya dapat ditentukan harga jual untuk satu unit produk rak buku.
Pajak   = 15% x HPP = 15% x Rp 2.081.208.834 = Rp 312.181.325,10
Profit   = 67% x HPP = 67% x Rp 2.081.208.834 = Rp 1.394.409.919,78
Harga Jual (Rp) = HPP + Pajak + Profit
                          = Rp 2.081.208.834 + Rp 312.181.325,10 + Rp 1.394.409.919,78                           = Rp 3.787.800.077,88
HPP/unit           = HPP : Jumlah produksi dalam 1 tahun
                          = Rp 2.081.208.834 : (30 unit x 20 hari x 12 bulan)
                          = Rp 289.056,78
Harga jual/unit  = Harga jual : Jumlah produksi dalam 1 tahun
                          = Rp 3.787.800.077,88 : (30 unit x 20 hari x 12 bulan)
                          = Rp 526.083,34
            Berdasarkan uraian perhitungan di atas, dapat dilihat bahwa profit atau persentase keuntungan yang ingin diperoleh adalah sebesar 67%. Hal tersebut mempertimbangkan daya beli masyarakat terhadap produk lemari buku miring. Selain itu juga mempertimbangkan keinginan pemilik perusahaan dalam pengembalian modal dengan target sebelum tahun ke lima. Harga pokok penjualan (HPP) per unit lebih kecil jika dibandingkan dengan harga jual per unit, ini dikarenakan harja jual telah mempertimbangkan profit, pajak, dan dipengaruhi biaya transportasi untuk distribusi.
Tabel 15. Break Even Point (BEP)
Tahun Ke-
Fixed Cost (Rp)
Variable Cost  (Rp)
Produk/
tahun
Harga Jual/Unit (Rp)
BEP (Unit)
BEP
Yang Dibulatkan
BEP (Rp)
1
904,024,186.00
1,115,184,648.00
7200
526,083.34
2,435.4
2.436
1,281,240,407.4
2
904,024,186.00
1,121,184,648.00
2,440.9
2.441
1,284,123,253.7
3
904,024,186.00
1,127,784,648.00
2,447.0
2.448
1,287,309,405.7
4
904,024,186.00
1,135,044,648.00
2,453.7
2.454
1,290,832,484.4
5
904,024,186.00
1,143,030,648.00
2,461.1
2.462
1,294,730,211.1
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui nilai fixed cost meruakan biaya yang selama kisaran waktu operasi tertentu atau tingkat kapasitas produksi tertentu selalu tetap jumlahnya atau tidak berubah walaupun volume produksi berubah. Nilai Variable cost merupakan biaya yang besar kecilnya tergantung pada banyak sedikitnya volume produksi. Produk pertahun merupakan jumlah produk yang dihasilkan CV Wood Stationery Indonesia dalam satu tahun dengan harga jual produk perunit sebesar Rp 526.083,34. Nilai BEP yang dibutuhkan merupakan jumlah produk yang harus dijual untuk mencapai pengembalian modal untuk setiap tahunnya.  Nilai BEP Semakin lama semakin besar dikarenakan biaya variabel yang semakin meningkat.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, maka terdapat beberapa kesimpulan yang menjawab dari tujuan penulisan ini. Kesimpulan-kesimpulan pada penerapan aspek finansial yaitu total investasi yang diperlukan pada CV Wood Stationery Indonesia sebesar Rp 1.121.357.000. Total modal kerja yang diperlukan pada CV Wood Stationery Indonesia untuk tahap perancangan dan tahun pertama adalah sebesar Rp.430.024.186 dan Rp.2.019.208.834. Harga jual per unit untuk produk lemari buku miring dengan profit 67% adalah sebesar Rp 526.083,34.  Angsuran pokok tiap tahun sebesar Rp 178.529.501. Berdasarkan analisis kelayakan proyek dengan payback period (PP), net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan break even point (BEP) dapat dikatakan bahwa CV Wood Stationery Indonesia dikatakan layak. Saran untuk penerapan aspek financial yaitu sebaiknya penyelesaian dilakukan dengan bantuan perhitungan software khusus mengenai aspek finansial. Penentuan persentase profit yang diinginkan sebaiknya mempertimbangkan pangsa pasar dari produk tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
[2]   elib.unikom.ac.id
[3]  Purba, Radiks. Analisis Biaya Dan Manfaat (Cost and Benefit Analysis). 1997. Jakarta: CV. Rineka CiCVa.
[5] Grill, James O. dan Chatton, Moira. 2005. Memahami Laporan Keuangan. 2005. Jakarta: PPM.