1.
Profil
Kabupaten Boyolali
terkenal sebagai salah satu sentra pengembangan komoditas perikanan dengan
komoditas utama ikan lele. Salah satu sentra budidaya ikan lele di Kabupaten
Boyolali bahkan telah ditetapkan sebagai “Kampung Lele” yaitu Desa Tegalrejo
Kecamatan Sawit, karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai
pembudidaya pembesaran lele, dengan kebutuhan benih ikan lele pada tahun 2007
mencapai 250.000 benih per hari. Kebutuhan benih lele yang sedemikian besar
hanya untuk satu desa tentunya akan semakin besar jika digabungkan dengan
wilayah lainnya, dan hal ini memberikan peluang usaha yang sangat besar bagi
usaha pembenihan ikan lele. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan
Perikanan Kabupaten Boyolali, saat ini kegiatan usaha pembenihan ikan lele
dijalankan oleh 13 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dengan produksi mencapai 5,3
juta benih ikan lele per bulan atau sekitar 175.000 benih per hari. Kekurangan
benih ikan lele untuk memenuhi kebutuhan ‘Kampung Lele’ dan wilayah lainnya di
Kabupaten Boyolali masih harus didatangkan dari luar, khususnya Kediri dan
Tulung Agung di Jawa Timur. Alasan utama masyarakat melakukan usaha pembenihan
ikan lele antara lain adalah siklus usaha yang relatif pendek (1,5 bulan)
sehingga perputaran uang untuk kegiatan usaha menjadi lebih cepat dengan
rentabilitas relatif tinggi (mortalitas larva 30-40%), risiko budidaya relatif
kecil dengan penanganan yang baik, serta kecenderungan pola makan masyarakat
yang bergeser pada bahan pangan yang sehat, aman dan tidak berdampak negatif
terhadap kesehatan menjadi stimulant bagi peningkatan permintaan ikan termasuk
ikan lele. Pola usaha pembenihan ikan lele umumnya masih dilakukan secara
tradisional dengan sistem pemijahan alami, dimana sepasang indukan yang telah
siap pijah akan ditempatkan pada bak penampungan berupa kolam permanen/tembok, tanpa
campur tangan pembenih. Sistem pemberian pakan juga masih mengikuti standar
pakan ikan lele, meliputi pakan alami dan pakan buatan, yaitu dengan memberikan
cacing sutera (tubifex) untuk larva ikan lele umur 4-5 hari, dilanjutkan
dengan tepung pelet (umur 2-3 minggu) dan selanjutnya diberikan pelet hingga dapat
dipanen pada minggu ke 6 dengan ukuran benih 5-6 cm.
Kajian ini menggunakan
ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) sebagai obyek ini dengan
pertimbangan bahwa jenis lele dumbo ini pada umumnya diusahakan oleh pembenih
dan pembesaran ikan lele serta lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik di
wilayah perkotaan maupun di pedesaan. Dengan obsesi menjadi produsen perikanan
terbesar di dunia pada tahun 2015, maka Indonesia memiliki modal besar untuk
sumberdaya perikanan yang dan belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya
perikanan budidaya yang merupakan ujung tombak pencapaian obsesi tersebut. Upaya
pencapaian target produksi dilaksanakan melalui tiga pendekatan, (1) fokus
kepada pencapaian produksi dan menumbuhkan wirausaha pemula perikanan budidaya,
(2) mendorong dan mengoptimalkan pemanfaatan kredit program seperti Kredit
Usaha Rakyat (KUR), Kredit Ketahanan
Pangan dan Energi (KKP-E), PKBL dan Badan Layanan Umum (BLU) untuk menggerakan
aktivitas usaha kelompok masyarakat pembudidaya ikan (Pokdakan), dan (3)
menciptakan iklim usaha yang mampu memacu Pokdakan Maju untuk melakukan
ekspansi dan memperbesar skala usahanya dengan menggunakan fasilitas kredit
komersial.
2.
Harga
Usaha
pembenihan ikan lele merupakan kegiatan yang dilaksanakan pelaku usaha agar
mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dengan mengedepankan aspek bisnis
sebagai pilihan utama. Dengan tetap menerapkan prinsip ekonomi yang sehat
dimana pengeluaran seefisien mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang optimal,
usaha pembenihan ikan lele tetap harus mengikuti prosedur pemeliharaan benih
lele dengan baik dan lele memerlukan ketelatenan agar diperoleh benih ikan lele
dengan kualitas yang baik. Secara umum, petani pembenihan ikan lele di Desa
Tanjungsari Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali yang tergabung dalam wadah
unit pembenihan rakyat (UPR) menjual benih ikan lele berdasarkan ukurannya
dengan harga seperti terlihat pada Tabel 1
Tabel 1. Harga Benih Ikan Lele Berdasarkan Ukuran
No
|
Ukuran Benih
|
Harga Jual per Ekor
|
1
|
1 -2 cm
|
Rp. 50
|
2
|
3-5 cm
|
Rp. 60
|
3
|
5-6 cm
|
Rp. 80
|
4
|
6-7 cm
|
Rp. 90
|
5
|
7-9 cm
|
Rp. 100
|
Sumber : Narasumber pembenih ikan lele
Pembenih tidak
menerapkan perbedaan harga benih ikan lele yang dijual ke pengumpul/tengkulak
maupun pembudidaya pembesaran ikan lele. Perbedaan harga benih ikan lele
semata-mata ditentukan berdasarkan ukuran/size dari benih tersebut.
3.
Pendapatan
Berdasarkan kapasitas
kolam dan produksi telur induk ikan lele, maka produksi benih ikan lele per
bulan adalah sebanyak 116.000 ekor per bulan. Usaha ini diproyeksikan untuk
dapat berproduksi secara optimal mulai tahun pertama hingga akhir tahun ketiga
(sesuai umur proyek). Dengan harga jual benih ikan lele sebesar Rp 80 per ekor,
maka untuk satu tahun produksi diproyeksikan untuk memperoleh pendapatan
sebesar Rp 111.360.000. Proyeksi produksi dan pendapatan usaha serta harga penjualan
ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Proyeksi Produksi dan Pendapatan
No
|
Produk
|
Volume
per
Bulan
|
Unit
|
Harga
Jual
(Rp)
|
Penjualan
perbulan
(Rp)
|
Penjualan
pertahun
(Rp)
|
1
|
Benih lele
|
116.000 ekor
|
80
|
9.280.000
|
111.360.000
|
|
TOTAL
|
9.280.000
|
111.360.000
|
||||
Sumber : Tempat Pemijahan Lele di Boyolali