Selasa, 21 Oktober 2014

UKM (Usaha Kecil Menengah) Pembenihan Lele

1.      Profil
Kabupaten Boyolali terkenal sebagai salah satu sentra pengembangan komoditas perikanan dengan komoditas utama ikan lele. Salah satu sentra budidaya ikan lele di Kabupaten Boyolali bahkan telah ditetapkan sebagai “Kampung Lele” yaitu Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit, karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pembudidaya pembesaran lele, dengan kebutuhan benih ikan lele pada tahun 2007 mencapai 250.000 benih per hari. Kebutuhan benih lele yang sedemikian besar hanya untuk satu desa tentunya akan semakin besar jika digabungkan dengan wilayah lainnya, dan hal ini memberikan peluang usaha yang sangat besar bagi usaha pembenihan ikan lele. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, saat ini kegiatan usaha pembenihan ikan lele dijalankan oleh 13 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dengan produksi mencapai 5,3 juta benih ikan lele per bulan atau sekitar 175.000 benih per hari. Kekurangan benih ikan lele untuk memenuhi kebutuhan ‘Kampung Lele’ dan wilayah lainnya di Kabupaten Boyolali masih harus didatangkan dari luar, khususnya Kediri dan Tulung Agung di Jawa Timur. Alasan utama masyarakat melakukan usaha pembenihan ikan lele antara lain adalah siklus usaha yang relatif pendek (1,5 bulan) sehingga perputaran uang untuk kegiatan usaha menjadi lebih cepat dengan rentabilitas relatif tinggi (mortalitas larva 30-40%), risiko budidaya relatif kecil dengan penanganan yang baik, serta kecenderungan pola makan masyarakat yang bergeser pada bahan pangan yang sehat, aman dan tidak berdampak negatif terhadap kesehatan menjadi stimulant bagi peningkatan permintaan ikan termasuk ikan lele. Pola usaha pembenihan ikan lele umumnya masih dilakukan secara tradisional dengan sistem pemijahan alami, dimana sepasang indukan yang telah siap pijah akan ditempatkan pada bak penampungan berupa kolam permanen/tembok, tanpa campur tangan pembenih. Sistem pemberian pakan juga masih mengikuti standar pakan ikan lele, meliputi pakan alami dan pakan buatan, yaitu dengan memberikan cacing sutera (tubifex) untuk larva ikan lele umur 4-5 hari, dilanjutkan dengan tepung pelet (umur 2-3 minggu) dan selanjutnya diberikan pelet hingga dapat dipanen pada minggu ke 6 dengan ukuran benih 5-6 cm.
Kajian ini menggunakan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) sebagai obyek ini dengan pertimbangan bahwa jenis lele dumbo ini pada umumnya diusahakan oleh pembenih dan pembesaran ikan lele serta lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan. Dengan obsesi menjadi produsen perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015, maka Indonesia memiliki modal besar untuk sumberdaya perikanan yang dan belum sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya perikanan budidaya yang merupakan ujung tombak pencapaian obsesi tersebut. Upaya pencapaian target produksi dilaksanakan melalui tiga pendekatan, (1) fokus kepada pencapaian produksi dan menumbuhkan wirausaha pemula perikanan budidaya, (2) mendorong dan mengoptimalkan pemanfaatan kredit program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit  Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E), PKBL dan Badan Layanan Umum (BLU) untuk menggerakan aktivitas usaha kelompok masyarakat pembudidaya ikan (Pokdakan), dan (3) menciptakan iklim usaha yang mampu memacu Pokdakan Maju untuk melakukan ekspansi dan memperbesar skala usahanya dengan menggunakan fasilitas kredit komersial.

2.      Harga
Usaha pembenihan ikan lele merupakan kegiatan yang dilaksanakan pelaku usaha agar mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dengan mengedepankan aspek bisnis sebagai pilihan utama. Dengan tetap menerapkan prinsip ekonomi yang sehat dimana pengeluaran seefisien mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, usaha pembenihan ikan lele tetap harus mengikuti prosedur pemeliharaan benih lele dengan baik dan lele memerlukan ketelatenan agar diperoleh benih ikan lele dengan kualitas yang baik. Secara umum, petani pembenihan ikan lele di Desa Tanjungsari Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali yang tergabung dalam wadah unit pembenihan rakyat (UPR) menjual benih ikan lele berdasarkan ukurannya dengan harga seperti terlihat pada Tabel 1
Tabel 1. Harga Benih Ikan Lele Berdasarkan Ukuran
No
Ukuran Benih
Harga Jual per Ekor
1
1 -2 cm
Rp. 50
2
3-5 cm
Rp. 60
3
5-6 cm
Rp. 80
4
6-7 cm
Rp. 90
5
7-9 cm
Rp. 100
Sumber : Narasumber pembenih ikan lele
Pembenih tidak menerapkan perbedaan harga benih ikan lele yang dijual ke pengumpul/tengkulak maupun pembudidaya pembesaran ikan lele. Perbedaan harga benih ikan lele semata-mata ditentukan berdasarkan ukuran/size dari benih tersebut.

3.      Pendapatan
Berdasarkan kapasitas kolam dan produksi telur induk ikan lele, maka produksi benih ikan lele per bulan adalah sebanyak 116.000 ekor per bulan. Usaha ini diproyeksikan untuk dapat berproduksi secara optimal mulai tahun pertama hingga akhir tahun ketiga (sesuai umur proyek). Dengan harga jual benih ikan lele sebesar Rp 80 per ekor, maka untuk satu tahun produksi diproyeksikan untuk memperoleh pendapatan sebesar Rp 111.360.000. Proyeksi produksi dan pendapatan usaha serta harga penjualan ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Proyeksi Produksi dan Pendapatan
No
Produk
Volume
per
Bulan
Unit
Harga
Jual
(Rp)
Penjualan
perbulan
(Rp)
Penjualan
pertahun
(Rp)
1
Benih lele
116.000 ekor

80
9.280.000
111.360.000
TOTAL
9.280.000
111.360.000

Sumber : Tempat Pemijahan Lele di Boyolali

Entrepreneur atau Kewirausahaan

1.      Definisi Entrepreneur
Menurut Joseph Schumpeter, entrepreneur atau wirausaha adalah orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru atau bias pula dilakukan dalam organisasi bisnis yang sudah ada (Alma, 2005).
2.       Karakteristik Kewirausahaan
Kewirausahaan meliputi kemampuan merumuskan tujuan dan memotivasi diri, berinitiatif, kemampuan membentuk modal dan mengatur waktu, mental yang kuat, dan kemampuan untuk mengambil hikmah dari pengalaman. Menurut Timmons, Jefry A (1997) 10 ciri-ciri yang dimiliki oleh wirausahawan tersebut adalah:
a.       Komitmen penuh, determinasi, dan kegigihan
b.      Dorongan untuk tumbuh dan berprestasi
c.       Orientasi terhadap peluang dan tujuan
d.      Pengambilan inisiatif dan tanggung jawab personal
e.       Pemecahan masalah secara persisten
f.       Realisme dan selera humor
g.        Mencari dan memanfaatkan umpan balik
h.      Locus of control internal
i.        Pencarian dan pengambilan resiko yang terkalkulasi
j.        Kebutuhan yang rendah akan status dan kekuasaan
k.      Integritas dan dapat dipercaya
Energi ini merupakan faktor penentu mengingat luar biasanya bisnis yang diperlukan untuk mendirikan suatu perusahaan. Lebih menyukai resiko menengah, wirausaha bukanlah seorang pengambil resiko liar, melainkan seorang yang mengambil resiko diperhitungkan. Wirausahawan melihat sebuah bisnis dengan tingkat pemahaman resiko pribadinya. Keyakinan atas kemampuan mereka untuk berhasil, seorang wirausaha umumnya memiliki banyak keyakinan atas kemampuan untuk berhasil.

Sumber : 

- e-journal.uajy.ac.id/492/3/2MTS01575.pdf